Friday, March 8, 2013

"Yes" Often Comes After "No"
Blog Riky -- Sebagai seorang marketing, saya selalu berupaya untuk berburu bahan bacaan dan melahap ilmunya. Sehingga, dalam keseharian beraktifitas, ilmu yang di dapatkan tersebut bisa di terapkan. Minimal, motivasi baru kita dapatkan untuk terus bergairah dalam melakukan penjualan.

Salah satu buku yang saya miliki saat ini adalah " Setiap Orang Sales Harus Punya Sales Script Ini ! ", karya Dedy Budiman dan James Gwee, yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Pengalaman saya dalam keseharian memang sesuai yang di tuliskan dalam buku ini. " Hampir dalam 70 % kasus, kata 'tidak' itu sebenarnya berarti : ' Saya belum Yakin, nanti saya pikir-pikir lagi. Saya butuh waktu dan informasi lebih lanjut, sebelum memutuskannya. " 

Awalnya ketika banyak yang menolak terhadap produk yang saya tawarkan "asuransi jiwa", saya menganggap itu sebuah kata terakhir, artinya saya tidak bisa masuk lagi alias mentok. 

Namun sekarang, seiring bertambahnya pengalaman di lapangan, setiap kata 'tidak' terlontar, saya tidak menganggap itu sebagai akhiran. Saya tidak pernah untuk melepaskan contact dengan nasabah saya. Baik melalui telepon atau bertemu langsung, saya sering tidak membicarakan produk yang pernah saya tawarkan, akan tetapi sesekali itu saya singgung sebagai pengingat bagi nasabah tersebut. Dan berusaha terus meyakinkan kompetensi kita dan produk bagus yang  ditawarkan.

Kebanyakan nasabah, ketika belum yakin untuk produk yang kita tawarkan, mereka lebih memilih mengatakan 'tidak', meskipun ada kecendrungan untuk mengambil produk kita tersebut. Kata ' tidak ' terlontar dari nasabah bisa dimaksudkan belum sekarang, saya belum yakin, saya cari informasi dari produk pembanding dulu. Dengan begitu si nasabah berfikir salesperson tidak akan datang lagi untuk ngotot menjual. Toh, kalau nasabah merasa butuh suatu saat dia pasti akan mencari produk tersebut, meskipun melalui orang lain.

Nah, sebagai seorang salesperson yang profesional, kata 'tidak' jangan menjadi penciut semangat kita dalam berjualan. dari 10 orang yang kita prospek, pasti akan ada 1 atau 2 yang tertarik dan salah satunya bisa closing. Kunjungi lagi dan lagi nasabah tersebut, tentunya sesuai sikon dari nasabah, dan sesuai kreatifitas kita di  lapangan. Tentunya wawasan kita tentang produk dan pemahaman tentang si prospek juga kita tingkatkan, agar persentase kemungkinan terwujudnya closing semakin tinggi.

Post a Comment:

Silahkan tanggapan dan sarannya untuk tulisan ini.